Kamis, 20 Oktober 2011

Mencintai Allah di Atas Segalanya

Cinta kepada Allah adalah kebergantungan terhadap Allah SWT, sehingga akan merasa nyaman saat dekat-Nya dan merasa gelisah saat jauh dari-Nya. Abdullah Nasih Ulwan, seorang ulama Syria, mengatakan cinta merupakan fitrah sekaligus anugrah dari Allah Ta’ala yang sangat besar kepada manusia.
Allah menganugrahkan cinta kepada manusia dalam dua bentuk. Pertama, cinta terhadap materi (duniawi). Kedua, cinta terhadap kehidupan akhirat. Cinta terhadap materi artinya, cinta terhadap apa saja yang didingini. Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk cinta terhadap duniawi. Allah secara tegas memerintah manusia untuk tidak melupakan kehidupan dunia. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qashash (28) : 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kesenangan dan kebahagiaan negeri akhirat, namun janganlah kamu melupakan bagianmu dari kesenangan dan kebahagiaan hidup duniawi”.
Hanya saja, Islam mengingatkan bahwa kebahagiaan hidup di dunia sifatnya sementara, (hanya sebentar saja) sedangkan kehidupan akhirat bersifat abadi. Manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Supaya semua perbuatan kita di dunia ini bernilai ibadah, niatkan semuanya karena Allah SWT. Hal tersebut merupakan salah satu wujud cinta kita kepada AllahTa’ala.
Nabi Ibrahim as merupakan sosok pecinta abadi terhadap Allah SWT. Beliau menempatkan cinta Allah di atas segalanya. Ketika beliau harus memilih antara Allah dan keluarga, Allah-lah yang dipilih sekalipun konsekuensinya terusir dari keluarga.
Allah tidak menuntut hamba-Nya untuk hanya mencintai-Nya dan mengabaikan cintanya kepada yang lain. Ini dikarenakan, perasaan cinta merupakan fitrah sekaligus anugerah. Allah tidak menghalangi perasaan cinta hamba-Nya, asal sejalan dengan kehendak Allah SWT.
Cinta kita kepada sesama muslim juga harus tumbuh karena cinta kita kepada Allah SWT. Semakin dalam cinta kita kepada Allah, kian besar pula tali ukhuwah di sesama manusia.
Allah Ta’ala menuntut agar cinta kita kepada selain-Nya tidak lebih besar dari cinta kkita kepada-Nya. Letakkan cinta kepada yang lain di bawah cinta kepada Allah SWT. Seorang yang mencintai Allah tentu ingin selalu dekat dengan-Nya, merasa tentram saat menyebut nama-Nya, merasa akrab saat meminta ampunan-Nya, merasa aman saat meminta pertolongan-Nya, dan merasa nyaman saat beribadah kepada-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang selalu menempatkan cinta Allah di atas segalanya.

Ketika Allah mencintai seseorang

Ketika Allah Mencintai Seseorang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “manakala Allah mencintai seseorang, Dia akan memanggil Jibril seraya berkata, ‘Aku mencintai si Fulan. Wahai Jibril cintai pula dia’. Jibril pun mencintai orang itu dan mengumumkannya kepada semua penduduk langit. Allah mencintai si Fulan, maka cintai pula dia oleh kalian semua,’ maka semua penduduk langit mencintai orang itu, dan kemudian dia memperoleh kesenangan-kesenangan dari penduduk bumi’”. [HR Bukhari]
Sumber: Hadits Online